Rabu, 28 Februari 2018

Berlibur Ke Hobart, Ibu Kota Negara Bagian Tasmania



Tiap Tempat Tinggalkan Kesan Manis
 
                Sydney Opera House, Yarra Valley, dan Dreamworld di Gold Coast. Umumnya, tiga tempat itu selalu ada dalam daftar destinasi yang harus di kunjungi kalau pelesir ke Australia. Tapi, tak ada salahnya membuat rencana  perjalanan Anda sedikit berbeda. Terbanglah ke Hobart dan nikmati kecantikan ibu kota Negara bagian Tasmania itu, seperti yang saya lakukan.



                HOBART ini lengkap. Kita bisa menikmati keindahan laut, gunung, peninggalan sejarah, dan karya seni serta merasakan budaya lokal. Kita akan melihat Australia dari sisi yang berbeda jika datang kesini. Banyak tempat yang bisa di kunjungi, tapi dalam tulisan ini saya memilih tiga tempat yang bisa jadi referensi  untuk traveler.


Menikmati Karya Seni di Bawah Tanah

                MONA adalah museum milik swasta terbesar  di Australia. Pemilik museum tersebut adalah David Walsh, seorang pengusaha. MONA menjadi kontributor utama atas di nobatkannya Hobart sebagai salah satu di antara tujuh kota destinasi wisata yang wajib di kunjungi versi Lonely planet pada 2013.


                Saya menuju museum dengan menggunakan mobil, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari pusat kota. Setelah sampai, kami sempat bingung mencari pintu masuk. Soalnya, tidak ada gedung yang menyerupai museum. Eh ternyata, karya-karya seni itu di pamerkan di bawah tanah!

                Kami di beri gadget lengkap dengan perangkat dengar yang secara otomatis memberikan informasi audiovisual mengenai karya seni yang ada di museum tersebut.

                Canggihnya sarana penunjang kenyamanan tur membuat saya terkesima. Begitu juga dengan design interior bangunan ini. Kami seperti memasuki sebuah gua yang telah berdiri selama ribuan tahun dengan atmosfer yang khidmat. (*)

Eloknya Hamparan Bunga Lavender


                KALAU ingin berkunjung ke Hobart, saya menyarankan di bulan Januari hingga februari. Pasalnya, musim panen bunga lavender ada di rentang waktu tersebut. Kebun lavender itu ada di Nabowla, tiga jam perjalanan dari kota Hobart. Anda bisa menyewa satu mobil dengan biaya mulai Rp 800 ribu per hari atau bisa mengikuti tur yang tersedia di Hobart Travel Centre.

                Biaya masuk  Bridestowe Lavender Farm adalah AUD 10 atau setara Rp 100 ribu per orang. Begitu memasuki area parkir, kami melihat hamparan warna ungu yang elok membentang dengan langit biru. Jika sedang musim panen, kebun lavender itu sangat ramai pengunjung dari berbagai negara.

                Ada tur gratis dengan staf pemandu yang akan menjelaskan mengenai proses tanam, panen, hingga produksi lavender selama 30 menit di setiap jam buka. Bunga lavender yang telah di panen kemudian di produksi menjadi consumer goods seperti sabun, losion, lilin, teh, dan lain sebagainya.

                Menurut informasi, Bridestowe lavender Farm adalah tempat wisata yang paling sering di tandai di media sosial instagram untuk negara bagian Tasmania. Memang semua titik lokasi di kebun itu sangat instagrammable. Ada toko souvenir, booth foto, cafe, dan yang paling menarik perhatian saya adalah kedai es krim lavender! Harga satu scoop es krim AUD 5 atau Rp 50 ribu. Sungguh, rasa es krim itu membuat kunjungan saya ke Hobart semakin manis. (*)          
   
Ke Pasar, Nyicipi Jadi Orang Lokal

                PASAR tumpah yang berada  di area Salamanca ini ada setiap sabtu sejak 45 tahun lalu. Rata-rata barang yang tersedia adalah kerajinan tangan, karya seni, dan barang kebutuhan sehari-hari. Itu menjadi daya tarik utama wisata kota Hobart. Wisatawan asing seperti saya bisa sekaligus ikut merasakan menjadi orang lokal di sini.


                Untuk sampai ke Salamanca market, saya berjalan kaki dari tempat tinggal di pusat kota. Cukup dekat. Kurang lebih 15 menit. Pasar itu berada di dekat dermaga utama kota Hobart dan sangat mudah di jangkau.


                Selain memuaskan mata dan hasrat berbelanja, pengunjung bisa menikmati hiburan dari musisi-musisi jalanan. Atraksi busking itu juga  menjadi bagian yang menarik perhatian  pengunjung wisatawan.


                Pagi itu, saat saya berkunjung, ada empat band yang sedang menyuguhkan harmoni indah dari berbagai instrumen musik seperti gitar, selo, baritone, flute, saksofon, dan lain sebagainya. Suhu pagi hari di musim panas waktu itu 16 derajat celcius dan cukup berangin. Saya memutuskan untuk membeli topi rajutan berbentuk  Tasmanian devil, hewan khas yang hanya dapat di temukan di pulau ini. 

                Kerajinan lokal seperti lilin pewangi ruangan, hiasan gantung, pakaian, dan perhiasan etnik juga menarik minat banyak pembeli. Tidak ketinggalan, buah dan sayuran segar yang di produksi lokal seperti bit, ceri, dan apel. Buah dan sayuran produksi Tasmania memiliki kualitas premium dan menjadi langganan ekspor.

                Rampung berbelanja, saya membeli makanan yang di jual di sana. Jangan khawatir kelelahan atau tidak bisa bersantai karena banyak sekali tempat duduk di taman sepanjang area Salamanca. (*)

SUMBER : JP Sabtu 13 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar