Tiap
Tempat Tinggalkan Kesan Manis
Sydney Opera House, Yarra Valley, dan
Dreamworld di Gold Coast. Umumnya, tiga tempat itu selalu ada dalam daftar
destinasi yang harus di kunjungi kalau pelesir ke Australia. Tapi, tak ada
salahnya membuat rencana perjalanan Anda
sedikit berbeda. Terbanglah ke Hobart dan nikmati kecantikan ibu kota Negara
bagian Tasmania itu, seperti yang saya lakukan.
HOBART ini lengkap. Kita bisa menikmati
keindahan laut, gunung, peninggalan sejarah, dan karya seni serta merasakan
budaya lokal. Kita akan melihat Australia dari sisi yang berbeda jika datang
kesini. Banyak tempat yang bisa di kunjungi, tapi dalam tulisan ini saya
memilih tiga tempat yang bisa jadi referensi
untuk traveler.
Menikmati
Karya Seni di Bawah Tanah
MONA adalah museum milik swasta
terbesar di Australia. Pemilik museum
tersebut adalah David Walsh, seorang pengusaha. MONA menjadi kontributor utama
atas di nobatkannya Hobart sebagai salah satu di antara tujuh kota destinasi
wisata yang wajib di kunjungi versi Lonely planet pada 2013.
Saya
menuju museum dengan menggunakan mobil, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit
dari pusat kota. Setelah sampai, kami sempat bingung mencari pintu masuk.
Soalnya, tidak ada gedung yang menyerupai museum. Eh ternyata, karya-karya seni
itu di pamerkan di bawah tanah!
Kami di
beri gadget lengkap dengan perangkat dengar yang secara otomatis memberikan
informasi audiovisual mengenai karya seni yang ada di museum tersebut.
Canggihnya
sarana penunjang kenyamanan tur membuat saya terkesima. Begitu juga dengan
design interior bangunan ini. Kami seperti memasuki sebuah gua yang telah
berdiri selama ribuan tahun dengan atmosfer yang khidmat. (*)
Eloknya
Hamparan Bunga Lavender
KALAU ingin berkunjung ke Hobart, saya
menyarankan di bulan Januari hingga februari. Pasalnya, musim panen bunga
lavender ada di rentang waktu tersebut. Kebun lavender itu ada di Nabowla, tiga
jam perjalanan dari kota Hobart. Anda bisa menyewa satu mobil dengan biaya
mulai Rp 800 ribu per hari atau bisa mengikuti tur yang tersedia di Hobart
Travel Centre.
Biaya
masuk Bridestowe Lavender Farm adalah
AUD 10 atau setara Rp 100 ribu per orang. Begitu memasuki area parkir, kami
melihat hamparan warna ungu yang elok membentang dengan langit biru. Jika
sedang musim panen, kebun lavender itu sangat ramai pengunjung dari berbagai
negara.
Ada tur
gratis dengan staf pemandu yang akan menjelaskan mengenai proses tanam, panen,
hingga produksi lavender selama 30 menit di setiap jam buka. Bunga lavender
yang telah di panen kemudian di produksi menjadi consumer goods seperti sabun, losion, lilin, teh, dan lain
sebagainya.
Menurut
informasi, Bridestowe lavender Farm adalah tempat wisata yang paling sering di
tandai di media sosial instagram untuk
negara bagian Tasmania. Memang semua titik lokasi di kebun itu sangat instagrammable. Ada toko souvenir, booth foto, cafe, dan yang paling
menarik perhatian saya adalah kedai es krim lavender! Harga satu scoop es krim
AUD 5 atau Rp 50 ribu. Sungguh, rasa es krim itu membuat kunjungan saya ke Hobart
semakin manis. (*)
Ke
Pasar, Nyicipi Jadi Orang Lokal
PASAR tumpah yang berada di area Salamanca ini ada setiap sabtu sejak
45 tahun lalu. Rata-rata barang yang tersedia adalah kerajinan tangan, karya
seni, dan barang kebutuhan sehari-hari. Itu menjadi daya tarik utama wisata
kota Hobart. Wisatawan asing seperti saya bisa sekaligus ikut merasakan menjadi
orang lokal di sini.
Untuk
sampai ke Salamanca market, saya berjalan kaki dari tempat tinggal di pusat
kota. Cukup dekat. Kurang lebih 15 menit. Pasar itu berada di dekat dermaga
utama kota Hobart dan sangat mudah di jangkau.
Selain
memuaskan mata dan hasrat berbelanja, pengunjung bisa menikmati hiburan dari
musisi-musisi jalanan. Atraksi busking itu
juga menjadi bagian yang menarik
perhatian pengunjung wisatawan.
Pagi
itu, saat saya berkunjung, ada empat band yang sedang menyuguhkan harmoni indah
dari berbagai instrumen musik seperti gitar, selo, baritone, flute, saksofon, dan lain sebagainya. Suhu pagi hari di
musim panas waktu itu 16 derajat celcius dan cukup berangin. Saya memutuskan
untuk membeli topi rajutan berbentuk Tasmanian devil, hewan khas yang hanya
dapat di temukan di pulau ini.
Kerajinan
lokal seperti lilin pewangi ruangan, hiasan gantung, pakaian, dan perhiasan
etnik juga menarik minat banyak pembeli. Tidak ketinggalan, buah dan sayuran
segar yang di produksi lokal seperti bit, ceri, dan apel. Buah dan sayuran
produksi Tasmania memiliki kualitas premium dan menjadi langganan ekspor.
Rampung
berbelanja, saya membeli makanan yang di jual di sana. Jangan khawatir
kelelahan atau tidak bisa bersantai karena banyak sekali tempat duduk di taman sepanjang
area Salamanca. (*)
SUMBER : JP Sabtu 13 Januari 2018



Tidak ada komentar:
Posting Komentar