Kamis, 22 Februari 2018

Petualangan ke Base Camp Nanga Parbat di Pakistan



Yang Terindah Adalah Perjalanannya

                GUNUNG Nanga Parbat berlokasi di Diamer, Provinsi Gilgit-Baltistan. Dengan ketinggian mencapai 8.126 mdpl, ia adalah gunung tertinggi ke sembilan di dunia dan masih menjadi bagian dari barisan Pegunungan Himalaya yang membentang sampai Pakistan. Julukannya ngeri-ngeri. Ada yang menyebutnya  The Man Eater atau Killer Mountain lantaran banyak pendaki yang meninggal ketika mencoba meraih puncaknya.



                Perjalanan saya dan sekelompok teman di mulai dari Islamabad, Ibu Kota Pakistan. Kami menuju ke sebuah tempat  yang bernama Raikot Bridge di wilayah provinsi  Punjab di bagian Utara Pakistan. Secara khusus, tempat itu di sebut sebagai gerbang untuk memasuki wilayah Gunung Nanga Parbat.


                Ada transportasi khusus bernama NATCO yang di sediakan bagi penumpang yang akan bepergian ke wilayah tersebut.  Dengan membayar INR 1.500 (sekitar Rp 312 ribu), kami bakal bersafari melintasi jalan yang membelah gunung. Jalan raya itu di kenal dengan sebutan Karakoram Highway yan tersambung sampai ke Provinsi Xinjiang di Tiongkok. Waktu yang di perlukan sekitar 12 jam.

                Dari Raikot Bridge, jip adalah satu-satunya alat transportasi yang dapat di isi sampai enam orang. Jip ini akan membawa pengunjung ke Perkampungan terakhir di kaki gunung. Jalan yang di lalui sangat berbahaya dan sempit. Di kedua sisinya menganga jurang terjal. Di perlukan keahlian khusus untuk mengemudikan jip di sana.

                Jip berhenti di satu titik yang tidak mungkin  lagi di lewati  kendaraan. Kami harus berjalan kaki selama empat jam. Namun, segala perjuangan itu terbayar saat kami tiba di Fairy Meadows,  padang rumput yang berhadapan langsung dengan Nanga Parbat. Para pendaki sering beristirahat dan mendirikan tenda di situ. Kami pun begitu. 

                Fairy Meadows adalah pemandangan sempurna. Sangat, sangat, sangat indah. Seperti lukisan yang tanpa cela. Padang rumput yang superhijau di kelilingi pepohonan pinus yang seolah berbaris  menjadi pagar yang melindungi kami. Di baliknya, terlihat perbukitan hijau yang tampak kukuh. Di latar belakang, berdirilah Nanga Parbat yang berselimut salju menjulang dengan segala kebesarannya. Dengan membawa secangkir teh di tangan, saya sangat bersyukur bisa menikmati keindahan tersebut.

                Esok pagi, perjuangan yang lebih berat telah menunggu. Untuk menuju base camp, kami harus mendaki  sekitar lima jam. Pagi-pagi, kami sudah berangkat. Di sepanjang perjalanan, mata di manjakan hutan pinus  dan padang rumput. Makin mendekati  tujuan, kami menemukan gletser. Tiba-tiba saja, sungai yang terbentuk dari lelehan es itu memacu adrenalin. Berarti tidak lama lagi! Akhirnya, sebuah batu besar berbentuk kubus menjadi tanda bahwa kami telah tiba di base camp.

 
                Dari titik ini, Nanga Parbat dapat di saksikan secara langsung dari jarak sangat dekat. Tidak banyak orang di sana. Hanya ada rombongan kami. Maklum, Nanga Parbat kurang populer bagi traveler  Indonesia. Padahal, namanya tersohor di kalangan traveler  dunia.

                Jangan bayangkan ada warung makan atau fasilitas lain di sini. Satu-satu nya hal yang bisa kita lakukan adalah menikmati pemandangan Nanga Parbat yang luar biasa indah. Rerumputan dan pepohonan hijau membentang di depan mata. Oh ya, pemandangan itu hanya bisa di dapat saat musim panas. Meski begitu, suhu di tempat masih sangat dingin, yakni sekitar 2 derajat celcius.

                Di base camp, kami kerap mendengar suara unik yang berasal dari sekelompok  hewan. Kami tidak tahu namanya, tetapi bentuk dan ukurannya menyerupai tupai. Mereka mengeluarkan suara beberapa menit sekali. Tidak berisik, tetapi cukup bikin penasaran. Berjalan sekitar 15 menit dari  base camp, kami bisa menyentuh “dinding” Nanga Parbat yang di lapisi salju abadi. Sayangnya, kami tidak sempat singgah ke sana.


                Bagi para pendaki, tempat ini merupakan awal dari pendakian yang sebenarnya. Bagi kami, inilah tujuan akhir perjalanan sebelum kembali pulang. Memandang Nanga Parbat yang megah menyadarkan betapa kerdilnya kami sebagai manusia. Genap sehari disana, kami meninggalkan base camp dengan perasaan puas dan gembira. Selamat mencoba berpetualang di Pakistan. (*/adn/c14/na)

SUMBER : JP Sabtu 11 November 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar