Rusia adalah negara pengonsumsi
alkohol nomor empat terbesar di dunia. Dalam setahun, orang Rusia yang berumur
15 tahun ke atas rata-rata menenggak 15,76 liter minuman. Jenis yang paling
jamak di temui tentu vodka (konon, vodka di sana paling nikmat). Di sela
liputan Piala Konfederasi Juli lalu, Diar Candra menyempatkan diri berkunjung
ke Museum Vodka.
KALAU sudah di Rusia, rasanya kurang
lengkap kalau tidak mencicipi vodka lokal. Apalagi, vodka merupakan national
drink negeri yang di pimpin Vladimir Putin tersebut. Setelah sekitar 16
hari di jejali padatnya agenda liputan
Piala Konfederasi 2017, saatnya untuk bersantai sejenak (horee).
Dari informasi yang saya
kumpulkan, hanya ada dua museum vodka di Rusia. Yakni, di Moskow dan St
Petersburg. Untuk Moskow, museum vodka berada di area Izmaylovskaya. Di St
Petersburg, museum vodka bisa di temui di Konnogvardeisky. Karena kebetulan
berada di St Petersburg, saya tentu menuju museum yang terdekat.
Untuk
menuju ke Konnogvardeisky, kita bisa naik kereta bawah tanah atau metro. Cari
yang menuju ke stasiun terdekat, yakni Admiralteyskaya. Dari stasiun, kita
masih harus berjalan sekitar 1,2 kilometer lagi. Katedral St Isaac terdapat
tidak jauh dari museum vodka.
Nah,
keberadaan museum vodka tersebut satu gedung dengan Stroganoff Restaurant.
Tampaknya, itu menjadi strategi bisnis tersendiri. Sebelum masuk ke museum,
pengunjung di persilahkan menunggu di restoran tersebut. Tentu awkward kan
kalau duduk manis di restoran tanpa memesan apa pun. Biasanya, tanpa di minta,
pelayan otomatis memberikan paket penawaran. Yakni, makan, mencicipi vodka, dan
masuk museum.
Tiket
masuk museum termurah adalah RUB 400 (sekitar Rp 87 ribu) per orang. Jika ingin
mencicipi tiga seloki vodka plus kudapannya, pengunjung di kenai biaya RUB 600
(atau setara Rp 131 ribu) per orang. Di tambah makan di restoran, biaya
termurah untuk menikmati seluruh experience di museum rata-rata mencapai RUB 2.000
atau sekitar Rp 438 ribu.
Tour
museum vodka tersebut di mulai pukul 15.00 dan berakhir pukul 21.00 waktu
setempat. Satu rombongan biasanya terdiri atas enam sampai delapan pengunjung.
Ruangan
pertama museum vodka itu tidak seberapa luas. Yakni, berukuran 6 x 10 meter.
Dalam ruangan tersebut di pamerkan alat-alat pembuatan vodka pada awal abad
ke-16. Tampaknya, vodka di Rusia di kenalkan bangsa Italia. Awalnya, mereka
memakai anggur sebagai bahan dasar fermentasi. Karena di Rusia sulit menemukan
anggur, gantinya adalah biji-bijian.
“Dari
banyak ahli yang meneliti asal kata vodka, vodka berasal voda atau air,” kata Yana Meisner, pemandu museum. Setelah sejarah
singkat dan alat pembuatan vodka pada abad ke-16, pengunjung di pertontonkan
berbagai hal terkait dengan perkembangan industri vodka.
Dari
era Tsar Nicholas II (1868-1918), ada bandul besi yang bentuknya mirip
klontongan sapi. Bandul tersebut wajib di kalungkan ke leher prajurit yang
ketika mabuk membuat kekacauan alias resek. “Sabda Tsar Nicholas II kepada para
prajuritnya, cukup adalah cukup. Jadi, minum vodka tak boleh mabuk,” ucap Yana.
Prajurit yang kena hukum karena mabuknya membuat kekacauan harus memakai bandul
besi itu selama seminggu (ini lucu, cocok buat mendisiplinkan pasukan)
Kemudian,
ada juga kisah vodka pada perang Dunia II. Jadi, prajurit yang kembali dari
medan perang wajib memasukkan medali kehormatannya ke vodka, lalu meminum
minuman tersebut. Ketika vodka di masukkan ke mulut dan medali bisa tergigit,
prajurit itu di percaya akan beruntung pada pertempuran berikutnya.
Masuk
ke ruangan kedua yang berukuran 6 x 8 meter, selain ada foto-foto pembesar
Rusia yang sedang minum vodka, ada lima meja kecil. Di sinilah para pengunjung
di persilahkan mencicipi tiga seloki vodka paling terkemuka. Yakni, Russian
Standard, Arkhangelsk, dan bulbash.
Ketiganya
memiliki rasa dan sensasi yang berbeda-beda. Bagi saya, yang paling acceptable adalah Russian Standard.
Paling soft dan enak. Bulbash paling nonjok. Bikin kaget ketika minum.
Arkhangelsk agak lebih keras dari Russian Standard, tapi tidak se-ngagetin bulbash. Namun, sensasi
menikmati vodka di negeri yang memang identik dengan vodka sungguh tidak
tertandingi.
Oh iya,
jangan lupa tiga jenis kudapan yang sudah di siapkan. Yakni, ikan asin, acar
timun, plus satu jenis lagi yang saya tak yakin terbuat dari apa. Masing-masing
cocok dengan setiap jenis vodka yang berbeda. Di lidah saya sih, Russian Standard paling jodoh jika
di santap dengan acar mentimun. Nggak tahu kalau menurut pengunjung lain, hehehe...
Lidah saya nampaknya cocok
dengan pendapat sastrawan besar Rusia Anton Checkov. Katanya, orang berusaha
keras mencari teman yang cocok untuk minum vodka. Tapi, mereka tak akan pernah menemukan kudapan yang lebih bagus
dari pada acar timun. Kutipan Checkov itu tertulis di menu restoran.
“Katakan
Nazdarovya kepada teman minum kita. Artinya untuk kesehatan,” tambah Yana. Ja. Nazdarovya! (*/c15/na)
TENTANG MUSEUM VODKA
LOKASI : Konnogvardeyskiy b-r, 4, Saint-Petersburg, Rusia.
JAM BUKA : 12.00-19.00 (setiap hari)
TIKET : Tiket individu, tanpa tur : RUB 170 (sekitar Rp 37 ribu)
Tiket individu, dengan tur (30 menit) : RUB
400 (Rp 87 ribu)
Tiket tur
dan vodka tasting (30 menit) : RUB 600 (Rp 131 ribu)
Vodka
tasting saja : RUB 350 (Rp 77 ribu)
TRIVIA :
·
Di dirikan pada 2001
·
Di kelola oleh Stroganoff Group, salah satu
restaurant holding terbesar di Rusia.
·
Merupakan museum khusus koleksi vodka pertama
dunia dan Rusia.
·
Punya ciri khas entrance drink berupa medovukha,
minuman alkohol berbahan dasar madu khas negara Slavia.
·
Ada begitu banyak yang menyediakan paket-paket
tur menarik. Harganya macam-macam, bergantung fasilitas (misalnya, jemputan
dari hotel atau semacamnya). Namun, patokan tiketnya seperti diatas dan kita
bisa saja masuk tanpa harus ikut tur.
·
Load turis setiap hari rata-rata tidak berbeda,
hanya kunjungan selalu meningkat pada Jumat. Sabtu justru lebih sepi. (fam/c4/na)
SUMBER : JP Sabtu 5 Agustus 2017





Tidak ada komentar:
Posting Komentar