Wajib
Sowan Ke Raja
Boti
Bulan lalu Lili Kristanti dan
teman-temannya mengunjungi saudara di kota Soe, yang berjarak 3 jam perjalanan
darat dari kupang. Mereka mendedikasikan sehari untuk pelesir ke lokasi wisata di sekitar soe. Yakni, Desa
Boti, Fatu Ulan, dan pantai kolbano. Yang mereka temukan adalah surga yang
tersembunyi.
ADA
yang unik selama perjalanan dari kupang
ke Desa Soe. Selain di manjakan pemandangan serba hijau, kami melihat
bunga sakura bermekaran. Ya, betul, itu sakura. Warnanya pink muda dan sangat cantik. Saya sempat
mengabadikannya, tapi hasilnya kurang bagus karena warnanya terlalu lembut.
Apalagi, saya memotretnya dari dalam mobil.
Perjalanan
Soe ke Desa Boti memakan waktu 2 jam, meskipun jaraknya hanya sekitar 50
kilometer. Jalan yang menghubungkan Soe dan Desa Boti rusak berat. Tidak
beraspal, kontur tanah juga naik turun. Di perlukan mobil jenis 4WD untuk
menmpuh perjalanan ini. Tapi, pemandangannya indah. Lembah, jurang, dan sungai
yang kami lewati cukup untuk cuci mata.
Sesampai
di Desa Boti, kami langsung menemui Raja Boti dan keluarga di kediaman mereka yang sederhana. Masyarakta di Boti
masih tinggal di rumah-rumah tradisional
yang beratap jerami. Kami di sambut dengan sangat ramah dan di jamu dengan
makanan kecil. Setelah berbincang sejenak, kami berkeliling di kompleks
kediaman raja, melihat bagaimana keseharian suku Boti dan rumah tradisionalnya.
Kami
melihat kaum perempuan membersihkan
kapas yang mereka tanam sendiri, memintalnya
jadi benang, dan menenunnya jadi kain. Kain tenun itu di jual di art shop di
rumah warga. Selain kain tenun, ada aksesoris khas Boti dan pahatan kayu yang
di jual di sana. Mereka sangat ramah, bahkan mau menjelaskan panjang lebar jika
kami bertanya.
Menurut
kakak saya yang tinggal di Soe, bertamu ke rumah raja adalah kewajiban jika
berkunjung ke Desa Boti. Suatu kali, ada temannya yang tak singgah ke rumah
raja untuk sekadar meminta izin atau menjelaskan maksud kedatangannya ke
wilayah sang raja. “Eh, waktu pulang, dia nggak bisa keluar dari desa.
Berputar-putar saja, hampir kesasar,” kata kakak saya.
Kalau
menurut kami sih, tidak ada ruginya sowan kepada raja. Banyak yang bisa kami
dapatkan dari kunjungan itu. Yang jelas, wawasan makin luas. Plus, saat
berpamitan, raja memberi kami kenang-kenangan berupa selendang dan gelang yang
mereka tenun sendiri. Sungguh keramahan yang tidak bisa kami lupakan.
Dari
Boti, kami kembali jalan sekitar sejam menuju Fatu Ulan. Kami tercengang
melihat keindahan Fatu Ulan. Pemandangan yang luar biasa indah membuat segala
kelelahan sirna. Kami sangat beruntung karena hari itu cuaca begitu cerah. Kami juga beruntung melihat
kawanan kuda yang berkejaran di padang rumput. Ada juga sapi dan kambing yang
berkeliaran. Hanya ada beberapa penduduk lokal yang kami temui dan kami
satu-satunya pengunjung saat itu. Rasanya seperti di atap dunia.
Batu-batu
putih berserakan di antara rerumputan. Mungkin, itulah asal nama Fatu Ulan.
Fatu berarti batu dan Ulan berarti hujan. Dan, memang, batu-batu tersebut
seperti jatuh dari langit, seperti hujan batu. Kami menikmati pemandangan itu
sambil menyantap bekal makanan. Rasanya ini makan siang termewah yang pernah
saya alami.
Dari
bukit tersebut, kami berpindah ke bukit lainnya. Pemandangan tidak kalah indah.
Dari sini, kami bisa melihat pantai kolbano yang biru di kejauhan.
“Pemandangannya kayak yang jadi walpaper atau screen saver layar windows, ya,”
ucap teman saya, di sambut tawa rombongan kami. Betul juga sih.
Kemudian,
kami meninggalkan Fatu Ulan, menuruni jalan, dan menuju destinasi terakhir,
pantai kolbano. Sudah lewat pukul tiga sore saat kami tiba di pantai yang
cantik dan bersih itu. Pantai tersebut sangat unik bukan karena pasir yang
menutupi bibir pantai, melainkan batu-batu
cantik yang di bawa gelombang dan akhirnya bertumpuk di pantai.
Semoga
tulisan ini terbaca oleh pemerintah
daerah setempat dan mendorong mereka berinisiatif memperbaiki akses ke
tempat-tempat tersebut. Jika aksesnya bagus, Indonesia akan lebih mudah di
eksplorasi! (*/c16/na)
SUMBER : JP Sabtu 26 Agustus 2017





Tidak ada komentar:
Posting Komentar