Jumat, 16 Februari 2018

Keindahan Tersembunyi di Soe, Nusa Tenggara Timur



Wajib Sowan Ke Raja Boti



                Bulan lalu Lili Kristanti dan teman-temannya mengunjungi saudara di kota Soe, yang berjarak 3 jam perjalanan darat dari kupang. Mereka mendedikasikan sehari untuk pelesir  ke lokasi wisata di sekitar soe. Yakni, Desa Boti, Fatu Ulan, dan pantai kolbano. Yang mereka temukan adalah surga yang tersembunyi.



                ADA yang unik selama perjalanan dari kupang  ke Desa Soe. Selain di manjakan pemandangan serba hijau, kami melihat bunga sakura bermekaran. Ya, betul, itu sakura. Warnanya pink muda  dan sangat cantik. Saya sempat mengabadikannya, tapi hasilnya kurang bagus karena warnanya terlalu lembut. Apalagi, saya memotretnya dari dalam mobil. 


                Perjalanan Soe ke Desa Boti memakan waktu 2 jam, meskipun jaraknya hanya sekitar 50 kilometer. Jalan yang menghubungkan Soe dan Desa Boti rusak berat. Tidak beraspal, kontur tanah juga naik turun. Di perlukan mobil jenis 4WD untuk menmpuh perjalanan ini. Tapi, pemandangannya indah. Lembah, jurang, dan sungai yang kami lewati cukup untuk cuci mata.



                Sesampai di Desa Boti, kami langsung menemui Raja Boti dan keluarga di kediaman  mereka yang sederhana. Masyarakta di Boti masih tinggal  di rumah-rumah tradisional yang beratap jerami. Kami di sambut dengan sangat ramah dan di jamu dengan makanan kecil. Setelah berbincang sejenak, kami berkeliling di kompleks kediaman raja, melihat bagaimana keseharian suku Boti dan rumah tradisionalnya.


                Kami melihat kaum perempuan  membersihkan kapas  yang mereka tanam sendiri, memintalnya jadi benang, dan menenunnya jadi kain. Kain tenun itu di jual di art shop di rumah warga. Selain kain tenun, ada aksesoris khas Boti dan pahatan kayu yang di jual di sana. Mereka sangat ramah, bahkan mau menjelaskan panjang lebar jika kami bertanya.


                Menurut kakak saya yang tinggal di Soe, bertamu ke rumah raja adalah kewajiban jika berkunjung ke Desa Boti. Suatu kali, ada temannya yang tak singgah ke rumah raja untuk sekadar meminta izin atau menjelaskan maksud kedatangannya ke wilayah sang raja. “Eh, waktu pulang, dia nggak bisa keluar dari desa. Berputar-putar saja, hampir kesasar,” kata kakak saya.

 
                Kalau menurut kami sih, tidak ada ruginya sowan kepada raja. Banyak yang bisa kami dapatkan dari kunjungan itu. Yang jelas, wawasan makin luas. Plus, saat berpamitan, raja memberi kami kenang-kenangan berupa selendang dan gelang yang mereka tenun sendiri. Sungguh keramahan yang tidak bisa kami lupakan.


                Dari Boti, kami kembali jalan sekitar sejam menuju Fatu Ulan. Kami tercengang melihat keindahan Fatu Ulan. Pemandangan yang luar biasa indah membuat segala kelelahan sirna. Kami sangat beruntung karena hari itu cuaca  begitu cerah. Kami juga beruntung melihat kawanan kuda yang berkejaran di padang rumput. Ada juga sapi dan kambing yang berkeliaran. Hanya ada beberapa penduduk lokal yang kami temui dan kami satu-satunya pengunjung saat itu. Rasanya seperti di atap dunia.

                Batu-batu putih berserakan di antara rerumputan. Mungkin, itulah asal nama Fatu Ulan. Fatu berarti batu dan Ulan berarti hujan. Dan, memang, batu-batu tersebut seperti jatuh dari langit, seperti hujan batu. Kami menikmati pemandangan itu sambil menyantap bekal makanan. Rasanya ini makan siang termewah yang pernah saya alami.


                Dari bukit tersebut, kami berpindah ke bukit lainnya. Pemandangan tidak kalah indah. Dari sini, kami bisa melihat pantai kolbano yang biru di kejauhan. “Pemandangannya kayak yang jadi walpaper atau screen saver layar windows, ya,” ucap teman saya, di sambut tawa rombongan kami. Betul juga sih.


                Kemudian, kami meninggalkan Fatu Ulan, menuruni jalan, dan menuju destinasi terakhir, pantai kolbano. Sudah lewat pukul tiga sore saat kami tiba di pantai yang cantik dan bersih itu. Pantai tersebut sangat unik bukan karena pasir yang menutupi  bibir pantai, melainkan batu-batu cantik yang di bawa gelombang dan akhirnya bertumpuk di pantai.



                Semoga tulisan ini terbaca oleh pemerintah  daerah setempat dan mendorong mereka berinisiatif memperbaiki akses ke tempat-tempat tersebut. Jika aksesnya bagus, Indonesia akan lebih mudah di eksplorasi!  (*/c16/na)

SUMBER : JP Sabtu 26 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar