Seru Berburu Mural
Lucu
George Town
di Penang, Malaysia, banyak di kenal sebagai destinasi wisata kuliner yang asik
banget. Namun, sebagai kota yang usianya sangat tua (berdiri sejak 1786),
begitu banyak nukilan seni dan sejarah yang bisa di temukan di sana. Bayu Adi
persada banyak belajar sejarah dan budaya sembari berburu mural untuk di foto.
SAYA tiba di George Town, Ibu Kota Negara bagian Penang, pagi
sekali. Badan pegal-pegal kepingin di istirahatkan. Apalagi, kasur empuk dan
sejuknya AC Di East Indies Hotel yang terletak di kawasan lebuh china tersebut
begitu posesif. Saya tidak boleh pergi. Tapi, saya takut kebablasan dan
kehilangan banyak waktu untuk jalan-jalan. Akhirnya, dengan berat hati, saya
tinggalkan kamar super nyaman itu.
Hotel yang saya inapi tersebut
hanya berjarak 100 meter dari pusat kota. Gedungnya tua. Memang, itu bangunan
tua yang di alih fungsikan menjadi hotel. Hampir seluruh struktur bangunan
masih seperti aslinya. Nuansa pecinaan kuno amat kental terasa. Ada foto-foto
kuno yang konon di abadikan pemilik rumah tersebut pada 1800-an. Juga perkakas,
lukisan, dan lemari yang di susun rapi sebagai ornament.
Keluar hotel, saya berjalan
menuju lebuh Armenian. Saya mau berburu mural yang terlukis cantik di dinding
bangunan. Terkadang, mural-mural itu tersembunyi di gang-gang kecil atau di
balik warung tenda. Untung, ada peta yang membantu saya menunjukkan letak
mural-mural tersebut.
Siapa pun tak akan jemu
menghabiskan waktu melihat keunikan mural-mural itu. Dari sekian banyaknya
mural, lukisan anak bersepeda dan ayunan kerap jadi sport foto hingga banyak
orang yang mengantre. Tak lengkap rasanya ke George Town tanpa berfoto di dua
mural tersebut.
Beberapa mural sangat sederhana.
Misalnya, gambar kucing berjejeran di samping saluran air. Sangat mungkin banyak
orang yang melewatkannya karena tak begitu kentara.
George Town terletak di pulau
Pinang yang di kenal sebagai tempat berlabuhnya para pelaut Tiongkok pada awal
abad ke-15. Mereka mengunjungi Malaka untuk berdagang. Pada akhir abad 18,
Inggris mengambil alih pulau tersebut sebagai daerah koloni. Karena itu,
arsitektur Inggris terpatri jelas pada banyak bangunan penting.
Bangunan-bangunan tersebut tegak berdiri dan di fungsikan sebagai bank, hotel,
ataupun kantor.
Disetiap sisi kota, corak melayu
kuno tetap menjadi mayoritas. Golongan bumi putera, istilah untuk etnis suku
melayu, menjadi penduduk mayoritas di Penang. Pemerintah mengatur agar
arsitektur bangunan tidak di ubah. Alhasil, pada 2008 George Town di nobatkan
sebagai lokasi warisan dunia oleh UNESCO. Dari situ, pendapatan warga dan kota
dari pariwisata semakin meningkat.
Saya tiba di ujung sebuah jalan.
Senyum saya mengembang saat melihat punting-puntung rokok raksasa yang seakan
menembus dinding. Tentu bukan rokok sungguhan. Di bawahnya ada mural seseorang
yang memakai masker tebal. Lagi-lagi karya unik itu jadi ekspresi sang seniman
yang mengundang decak kagum. Pesan sederhana tentang bahaya rokok di kemas
dengan amat tak biasa.
Keesokan harinya, saya
memutuskan naik bus wisata keliling pulau Pinang. Saya mengunjungi bukit
Penang. Cuaca sedang bagus, langit cerah bermozaik gumulan awan. Pemandangan
luar biasa dari atas sini. Padatnya bangunan di tengah kota, pepohonan hijau
dan perbukitan yang mengelilinginya, birunya air laut, serta putihnya awan
membuat kolase pemandangan yang sempurna.
Jelang sore, saya turun dari bus
di halte dejat pantai. Matahari mulai condong ke barat. Kampung Jetty,
pemukiman di atas laut yang konon berusia ratusan tahun, jadi tujuan
selanjutnya. Di depan pemukiman, gapura besar merah dengan ornament naga khas
pecinaan menyambut saya. Aroma dupa menyeruak. Semua bangunan dan jalan terbuat
dari kayu-kayu yang tersusun sejajar. Tak ada semen, apalagi aspal. Toko-toko
sudah menutup. Tak banyak kegiatan yang terlihat.
Di ujung kampung, suasana tenang
kian terasa. Hanya lompata yang memisahkan laut dengan lantai kayu tempat saya
berduri. Tak terdengar bunyi kendaraan. Hanya suara burung dan desiran ombak.
Bagi saya yang tak suka keramaian suasana seperti itu selalu di cari. Di ufuk
barat, matahari mulai terbenam. Hari terakhir saya di Penang amat berkesan.
Di sebuah warung kecil, saya
memesan segelas the tarik hangat. Entah kenapa, rasa the tarik tersebut berbeda
dengan yang biasa saya pesan di kafe-kafe di Jakarta. Semakin jauh melangkahkan
kaki, semakin saya sadar kota itu sejatinya adalah bauran banyak hal. Ungkapan
seni di jalan dan sudut-sudut kota, catatan sejarah panjang dari ratusan tahun
lampau, serta beragam corak budaya selalu berhasil jadi daya tarik bagi siapa pun
yang sudi singgah. (*/c22/na)
SUMBER : JP Sabtu 23
September 2017


Tidak ada komentar:
Posting Komentar