Minggu, 18 Februari 2018

Bauran Seni, Sejarah, dan Budaya di George Town



Seru Berburu Mural Lucu
                George Town di Penang, Malaysia, banyak di kenal sebagai destinasi wisata kuliner yang asik banget. Namun, sebagai kota yang usianya sangat tua (berdiri sejak 1786), begitu banyak nukilan seni dan sejarah yang bisa di temukan di sana. Bayu Adi persada banyak belajar sejarah dan budaya sembari berburu mural untuk di foto. 




                SAYA tiba di George Town, Ibu Kota Negara bagian Penang, pagi sekali. Badan pegal-pegal kepingin di istirahatkan. Apalagi, kasur empuk dan sejuknya AC Di East Indies Hotel yang terletak di kawasan lebuh china tersebut begitu posesif. Saya tidak boleh pergi. Tapi, saya takut kebablasan dan kehilangan banyak waktu untuk jalan-jalan. Akhirnya, dengan berat hati, saya tinggalkan kamar super nyaman itu.

                Hotel yang saya inapi tersebut hanya berjarak 100 meter dari pusat kota. Gedungnya tua. Memang, itu bangunan tua yang di alih fungsikan menjadi hotel. Hampir seluruh struktur bangunan masih seperti aslinya. Nuansa pecinaan kuno amat kental terasa. Ada foto-foto kuno yang konon di abadikan pemilik rumah tersebut pada 1800-an. Juga perkakas, lukisan, dan lemari yang di susun rapi sebagai ornament. 

                Keluar hotel, saya berjalan menuju lebuh Armenian. Saya mau berburu mural yang terlukis cantik di dinding bangunan. Terkadang, mural-mural itu tersembunyi di gang-gang kecil atau di balik warung tenda. Untung, ada peta yang membantu saya menunjukkan letak mural-mural tersebut.


                Siapa pun tak akan jemu menghabiskan waktu melihat keunikan mural-mural itu. Dari sekian banyaknya mural, lukisan anak bersepeda dan ayunan kerap jadi sport foto hingga banyak orang yang mengantre. Tak lengkap rasanya ke George Town tanpa berfoto di dua mural tersebut. 

                Beberapa mural sangat sederhana. Misalnya, gambar kucing berjejeran di samping saluran air. Sangat mungkin banyak orang yang melewatkannya karena tak begitu kentara. 

                George Town terletak di pulau Pinang yang di kenal sebagai tempat berlabuhnya para pelaut Tiongkok pada awal abad ke-15. Mereka mengunjungi Malaka untuk berdagang. Pada akhir abad 18, Inggris mengambil alih pulau tersebut sebagai daerah koloni. Karena itu, arsitektur Inggris terpatri jelas pada banyak bangunan penting. Bangunan-bangunan tersebut tegak berdiri dan di fungsikan sebagai bank, hotel, ataupun kantor. 

                Disetiap sisi kota, corak melayu kuno tetap menjadi mayoritas. Golongan bumi putera, istilah untuk etnis suku melayu, menjadi penduduk mayoritas di Penang. Pemerintah mengatur agar arsitektur bangunan tidak di ubah. Alhasil, pada 2008 George Town di nobatkan sebagai lokasi warisan dunia oleh UNESCO. Dari situ, pendapatan warga dan kota dari pariwisata semakin meningkat.

                Saya tiba di ujung sebuah jalan. Senyum saya mengembang saat melihat punting-puntung rokok raksasa yang seakan menembus dinding. Tentu bukan rokok sungguhan. Di bawahnya ada mural seseorang yang memakai masker tebal. Lagi-lagi karya unik itu jadi ekspresi sang seniman yang mengundang decak kagum. Pesan sederhana tentang bahaya rokok di kemas dengan amat tak biasa. 



                Keesokan harinya, saya memutuskan naik bus wisata keliling pulau Pinang. Saya mengunjungi bukit Penang. Cuaca sedang bagus, langit cerah bermozaik gumulan awan. Pemandangan luar biasa dari atas sini. Padatnya bangunan di tengah kota, pepohonan hijau dan perbukitan yang mengelilinginya, birunya air laut, serta putihnya awan membuat kolase pemandangan yang sempurna.

                Jelang sore, saya turun dari bus di halte dejat pantai. Matahari mulai condong ke barat. Kampung Jetty, pemukiman di atas laut yang konon berusia ratusan tahun, jadi tujuan selanjutnya. Di depan pemukiman, gapura besar merah dengan ornament naga khas pecinaan menyambut saya. Aroma dupa menyeruak. Semua bangunan dan jalan terbuat dari kayu-kayu yang tersusun sejajar. Tak ada semen, apalagi aspal. Toko-toko sudah menutup. Tak banyak kegiatan yang terlihat. 

                Di ujung kampung, suasana tenang kian terasa. Hanya lompata yang memisahkan laut dengan lantai kayu tempat saya berduri. Tak terdengar bunyi kendaraan. Hanya suara burung dan desiran ombak. Bagi saya yang tak suka keramaian suasana seperti itu selalu di cari. Di ufuk barat, matahari mulai terbenam. Hari terakhir saya di Penang amat berkesan.



                Di sebuah warung kecil, saya memesan segelas the tarik hangat. Entah kenapa, rasa the tarik tersebut berbeda dengan yang biasa saya pesan di kafe-kafe di Jakarta. Semakin jauh melangkahkan kaki, semakin saya sadar kota itu sejatinya adalah bauran banyak hal. Ungkapan seni di jalan dan sudut-sudut kota, catatan sejarah panjang dari ratusan tahun lampau, serta beragam corak budaya selalu berhasil jadi daya tarik bagi siapa pun yang sudi singgah. (*/c22/na)

SUMBER : JP Sabtu 23 September 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar