Rabu, 21 Februari 2018

Habiskan Weekend di Ujung Timur Jawa



Dilarang Mandi Kalau Ingin Ketemu Hewan

                Ingin escape  dari suasana perkotaan, tapi tidak ingin jauh-jauh ke luar pulau??  Tenang, daerah Jawa Timur masih bisa di eksplorasi. Misalnya, Banyuwangi dan Situbondo yang di kunjungi Okky Putri Rahayu bulan lalu.


                SAYA dan teman-teman reporter Surabaya berangkat ke Banyuwangi bersama tim dari Universitas Surabaya.  Agendanya gathering sambil liburan. Kami tiba di sana Sabtu pagi. Bawaannya sudah pingin berenang. Saya penasaran dengan Rumah Apung Bangsring. Katanya, di sana kita bisa snorkeling untuk menikmati taman bawah laut. So, pergilah kami kesana.

                Rumah Apung berjarak 20 meter dari bibir pantai Bangsring. Banyak persewaan alat snorkeling di pantai, lengkap dengan instrukturnya. Harganya relatif terjangkau. Saya juga memanfaatkan fasilitas itu. Setelah mengenakan perlengkapan, instruktur mengantar kami ke Rumah Apung. Cukup menaik Perahu mesin sekitar lima menit.


                Baru mencelupkan kepala ke air, aneka ikan sudah terlihat. Pemandangan bawah laut yang indah langsung memanjakan mata. Jika mau berenang 10 meter lebih jauh, kita bisa melihat penangkaran terumbu karang. Aneka terumbu karang dapat di lihat tanpa perlu menyelam terlalu dalam.


                Jika ongin menguji adrenalin, kita bisa berenang bersama hiu. Peraturannya, tak boleh memegang langsung si ikan ganas. Juga tak boleh punya luka terbuka yang berdarah. Meskipun panjang hiu karang di kolam hanya satu meter, sensasi merinding-merinding asyik tetap terasa ketika hiu berenang melewati kita. Wahhhh....

                Kalau capek berenang, kita bisa duduk-duduk santai di Geladak Rumah Apung sambil memberi makan ikan. Sebungkus roti tawar hanya di jual Rp 10 ribu. Itu buat ikan lho. Meski kalau kelaparan boleh juga di emplok sendiri, sih, hehehe.

---

                Siang tiba, saya mencari suasana lain. Pilihan jatuh pada taman Nasional Baluran, Situbondo. Meski lokasinya di kabupaten yang berbeda, hanya di butuhkan waktu sekitar 40 menit dari Bangsring. Setiba di gerbang Taman Nasional Baluran, saya masih harus menempuh jarak 12 kilometer dengan melintasi hutan dan jalan terjal untuk menuju ke menu utamanya : Sabana. 


                Meski di tengah hutan, jangan khawatir kelaparan. Ada warung di sana. Satu-satu nya juga sih. Warung itu menyediakan makanan khas Banyuwangi, yaitu Nasi Tempong. Sebaiknya mengisi perut sebelum safari hutan.

                Untuk melihat keseluruhan sabana, kita bisa naik ke menara pantai. Jika beruntung, kita bisa melihat gerombolan Banteng, Rusa, atau hewan lainnya. Namun, agar bisa bertemu mereka, ada syarat wajib. Nggak boleh mandi!!

                “Tidak boleh ada aroma sabun atau pun parfum,” jelas Nurdin Razak, petugas yang menemani kami menjelajah sabana. “Soalnya, penciuman hewan kan tajam. Mereka akan mudah mengenali kehadiran manusia. Kalu kita wangi, pasti hewan nggak mau muncul,” tambahnya. Saya juga sempat menjelajah hutan yang menembus ke pantai Bama. Di tengah hutan, terdapat rawa kecil tempat hewan-hewan minum. 

                Ketika sore, kami kembali ke sabana. Berbeda dengan suasana siang senja di Taman Nasional Baluran lebih indah. Apalagi ketika langit berubah jingga, sabana terhampar, dan Gunung Baluran terlihat bak siluet raksasa yang menjadi latar belakang sunset. Kawanan hewan berduyun-duyun kembali ke sarang melintasi padang rumput.


                Malam tiba, tidak berarti petualangan berhenti. Nurdin menawari kami untuk melihat harimau Jawa yang katanya sudah punah. Kami pun di ajak mengunjungi tempat harimau mencari minum. Adrenalin jelas di uji. Hari sudah gelap, di mulut hutan pula. Tentu takut di terkam harimau!  Namun, guide sudah professional dan sudah hafal tindak-tanduk harimau. Dia memastikan kami aman. 

---

                Meski badan pegal-pegal setelah snorkeling  dan safari hutan, saya tidak mau tidur terlalu lama. Itu kalau ingin menikmati sensasi terakhir pagi ini : sunrise pertama di Pulau Jawa. Untuk menikmati detik-detik kemunculan matahari, kami harus bersiap sejak pukul 04.30 WIB. 


                Sejak subuh, banyak yang berkumpul di pesisir pantai di Desa wonorejo, Situbondo. Bukan hanya wisatawan seperti saya, tapi juga warga sekitar. Sebagian bersiap ke laut, sebagian lagi ingin melihat sunrise. Di sini, kita bisa melihat pemandangan yang lengkap. Mulai sunrise, Gunung Baluran, hingga aktivitas warga sekitar. Pemandangan tersebut sekaligus menjadi penutup weekend  di Banyuwangi dan Situbondo. Saya pun harus rela kembali pada kesibukan di Surabaya!  Aduh malasnya....hehehe.... (*/c18/na)

SUMBER : JP Sabtu 4 November 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar