Tetap
Indah Dihajar Berbagai Perang
Destinasi di negara pecahan
Yugoslavia ini terbilang lengkap. Mulai kota tua, bangunan bersejarah, wisata
alam, sampai seni kontemporer ada di Kroasia. Di tambah lagi, Kroasia termasuk salah
satu negara Eropa dengan bujet wisata yang ramah di kantong.
PENERBANGAN
dari Jakarta ke Zagreb, Ibu Kota Kroasia, saya tempuh bersama Turkish Airlines
selama total 13 jam. Saat keberangkatan ini, Istanbul jadi pilihan sebagai hub Eropa dari Asia. Selain fasilitas business lounge Turkish Airlines yang
super lengkap, mewah, dan nyaman, mereka punya daily flight dari Jakarta yang memudahkan para traveller.
Nggak
Cuma Zagreb, saya
juga menyusuri beberapa kota di garis pantai Kroasia. Selama berpindah dari
satu kota ke kota lainnya, saya di buat melongo melihat bangunan dengan
arsitektur yang megah dan sophisticated.
Padahal, benteng dan kota tua di Kroasia itu berkali-kali di gempur oleh bom,
perang, dan gempa bumi. Ya, tahu sendiri kan,
di lihat dari sejarahnya saja, Kroasia akrab dengan konflik. Pertempuran sejak
zaman romawi sampai perang saudara, pernah di lakoni.
Well,
kita mulai saja jalan-jalan nya. Begitu tiba di Zagreb, saya langsung di buat
jatuh hati. Ibu kota negara yang timnas sepak bolanya pernah menembus peringkat
ketiga piala dunia 1998 itu tak terlihat sesuram sejarahnya. Tata kotanya Eropa
banget. Berupa blok demi blok yang tertata rapi. Bersih dari sampah, masyarakat
nya pun ramah dengan turis. Saya jadi nggak
percaya bahwa negara tersebut baru merdeka pada 1991.
Kota itu juga unik. Ada bagian upper town dan lower town. Lower town penuh
dengan coffee shop di sepanjang
jalan, pertokoan modern, serta meeting
place di monumen pahlawan Kroasia, Josip Jelacic. Selanjutnya, Upper town terasa lebih intimate dan cozy dengan ambience
medieval. Bangunan bersejarah seperti katedral dan tower kebanyakan berada di lokasi tersebut.
Hari berikutnya perjalanan berlanjut
ke Zadar, sebuah kota kuno di tepi laut Adriatik. Sejak lampau, Zadar berulang
ulang di jarah dan hancur. Invasi beberapa bangsa juga berpengaruh pada
peninggalan bangunan bersejarah di sana. Sesuai Linimasa, Zadar punya gereja St
Donatus peninggalan Byzentium, katedral St Anastasia yang berarsitektur khas
romawi, serta pintu gerbang karya Republic of Venice. Bahkan, ada gereja yang
masih menyisakan tembok penuh lubang peluruh bekas serangan perang dunia II dan
perang kemerdekaan Kroasia.
Yang terbaru, di kota itu terdiri
maha karya arsitek kontemporer nikola basic yang membuat public space berupa sea
organ. Saat senja, banyak warga kota yang datang kesana untuk sekedar duduk
membaca buku dan bercengkerama sambil menikmati suasana laut serta dengungan sea organ.
Kota tujuan selanjutnya, Split,
punya pesona yang nggak kalah mengagumkan.
Kemegahan diocletian palace dan view pantai
dengan background langit biru menyatu dengan harmonis di kota
yang beken dengan klub sepak bola hajduk split tersebut. Kalau beruntung,
pengunjung bisa bertemu grup akapela yang menyanyikan lagu-lagu II Divo di sisi
dekat jembatan istana. (*/c22/na)
SUMBER : JP Sabtu 21
Oktober 2017




Tidak ada komentar:
Posting Komentar