Senin, 19 Februari 2018

Romantika Kota-Kota Tua Kroasia



Tetap Indah Dihajar Berbagai Perang





            Destinasi di negara pecahan Yugoslavia ini terbilang lengkap. Mulai kota tua, bangunan bersejarah, wisata alam, sampai seni kontemporer ada di Kroasia. Di tambah lagi, Kroasia termasuk salah satu negara Eropa dengan bujet wisata yang ramah di kantong.


            PENERBANGAN dari Jakarta ke Zagreb, Ibu Kota Kroasia, saya tempuh bersama Turkish Airlines selama total 13 jam. Saat keberangkatan ini, Istanbul jadi pilihan sebagai hub Eropa dari Asia. Selain fasilitas business lounge Turkish Airlines yang super lengkap, mewah, dan nyaman, mereka punya daily flight dari Jakarta yang memudahkan para traveller.

            Nggak Cuma Zagreb, saya juga menyusuri beberapa kota di garis pantai Kroasia. Selama berpindah dari satu kota ke kota lainnya, saya di buat melongo melihat bangunan dengan arsitektur yang megah dan sophisticated. Padahal, benteng dan kota tua di Kroasia itu berkali-kali di gempur oleh bom, perang, dan gempa bumi. Ya, tahu sendiri kan, di lihat dari sejarahnya saja, Kroasia akrab dengan konflik. Pertempuran sejak zaman romawi sampai perang saudara, pernah di lakoni. 
            Well, kita mulai saja jalan-jalan nya. Begitu tiba di Zagreb, saya langsung di buat jatuh hati. Ibu kota negara yang timnas sepak bolanya pernah menembus peringkat ketiga piala dunia 1998 itu tak terlihat sesuram sejarahnya. Tata kotanya Eropa banget. Berupa blok demi blok yang tertata rapi. Bersih dari sampah, masyarakat nya pun ramah dengan turis. Saya jadi nggak percaya bahwa negara tersebut baru merdeka pada 1991. 

            Kota itu juga unik. Ada bagian upper town dan lower town. Lower town penuh dengan coffee shop di sepanjang jalan, pertokoan modern, serta meeting place di monumen pahlawan Kroasia, Josip Jelacic. Selanjutnya, Upper town terasa lebih intimate dan cozy dengan ambience medieval. Bangunan bersejarah seperti katedral dan tower kebanyakan berada di lokasi tersebut.

            Hari berikutnya perjalanan berlanjut ke Zadar, sebuah kota kuno di tepi laut Adriatik. Sejak lampau, Zadar berulang ulang di jarah dan hancur. Invasi beberapa bangsa juga berpengaruh pada peninggalan bangunan bersejarah di sana. Sesuai Linimasa, Zadar punya gereja St Donatus peninggalan Byzentium, katedral St Anastasia yang berarsitektur khas romawi, serta pintu gerbang karya Republic of Venice. Bahkan, ada gereja yang masih menyisakan tembok penuh lubang peluruh bekas serangan perang dunia II dan perang kemerdekaan Kroasia.

            Yang terbaru, di kota itu terdiri maha karya arsitek kontemporer nikola basic yang membuat public space berupa sea organ. Saat senja, banyak warga kota yang datang kesana untuk sekedar duduk membaca buku dan bercengkerama sambil menikmati suasana laut serta dengungan sea organ.
 
            Kota tujuan selanjutnya, Split, punya pesona yang nggak kalah mengagumkan. Kemegahan diocletian palace dan view pantai dengan background  langit biru menyatu dengan harmonis di kota yang beken dengan klub sepak bola hajduk split tersebut. Kalau beruntung, pengunjung bisa bertemu grup akapela yang menyanyikan lagu-lagu II Divo di sisi dekat jembatan istana. (*/c22/na)

SUMBER : JP Sabtu 21 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar