Bangunan
Berlubang Bertebaran
Perjalanan ke Mostar di iringi
kerisauan dari keluarga. Kota itu paling banyak menyimpan sejarah perang antara
Bosnia, Kroasia, dan Serbia pada pertengahan 1991. Kekhasan heritage berpadu dengan bangunan yang
berhias lubang bekas tembakan.
“YANG bener aja, ke Bosnia? Ngapain?”
“Duh, kok aneh-aneh sih.
Hati-hati ya di sana. Keep alarmed!"
Kira-kira,
itulah reaksi keluarga dan teman-teman ketika tahu saya akan berkelana ke
negeri Balkan. Mungkin kalian juga penasaran dan khawatir sama seperti mereka.
Apalagi, Bosnia dan Herzegovina adalah negara bekas perang yang baru merdeka
dan baru berusia dua dekade.Penasaran ada surga apa di negara muda itu? Yuk!
Adalah
Mostar, sebuah kota yang paling banyak
menyimpan sejarah perang antara
Bosnia, Kroasia,dan Serbia pada pertengahan 1991. Nama Mostar di ambil dari
kata Mostari atau penjaga jembatan (bridge-keepers).
Kehadirannya pada abad pertengahan dengan gigih menjaga dan mengawasi Stari Most (old bridge) untuk para pedagang, prajurit, serta travelers di tepi sungai Neretva.
Jembatan
yang di bangun pada era kekaisaran
ottoman (1566), yang di juluki The Graceful Ottoman Architecture,
tersebut terbentang di atas Sungai Neretva. Lokasi itu merupakan rute dagang dari kawasan Adriatic menuju
pusat Bosnia. Karena itu, penduduk Mostar tersebar di kedua sisi sungai yang di
pisah menjadi kawasan permukiman dan
perdagangan.
Sayang,
keharmonisan antara warga Bosnia, Kroasia, dan Serbia runtuh saat perpecahan
federasi Yugoslavia. Penyebabnya, krisis ekonomi.
Dampaknya,
Stari Most yang oleh pujangga muslim di gambarkan sebagai “bulan sabit batu” menjadi sasaran
tentara Kroasia saat perang berlangsung.
Jembatan tersebut di hancurkan secara tragis pada November 1993.
Jembatan
batu itu lalu di bangun kembali dengan mengumpulkan kepingan-kepingan yang
jatuh di Sungai Neretva. Pembangunan rampung 11 tahun kemudian. Untuk mengingat
peristiwa tersebut, terdapat batu berukuran sedang di sudut jembatan bertulisan
“Dont Forget ‘93”.
Saat
saya berkunjung pagi itu, matahari belum sepenuhnya bangun. Cahayanya kuning
kemerahan, tetapi cukup untuk menangkap kemegahan jembatan yang sekarang
mengisahkan old town dan new town Mostar.
Sepanjang
kota tua, wisata dan pengunjung di suguhi bangunan-bangunan bekas perang.
Tampak rumah-rumah yang temboknya penuh lubang, gedung pertemuan komunitas
muslim Bosnia yang rusak akibat serangan bom dan meriam. Tak sedikit kios di
sepanjang jalan yang menjual souvenir. Gedung di kawasan tersebut tampil khas
dengan gaya arsitektur yang kuno serta elegant.
Dari
atas stari most, pengunjung bisa melihat bukit yang menjadi medan perang antara
muslim bosnia dan katolik kroasia. Di puncaknya terdapat salib (kriz na humu).
Di sisi
lain bukit, masjid bernama koski mehmed mosque berdiri megah di wilayah kota
tua. Pemandangan di situ sungguh menyejukkan mata. Pemukiman dengan gaya
arsitektur yang memadukan kondisi perang pada masa lalu dan perdamaian pada
masa sekarang. Teduh, tentram, dengan sedikit bekas cahaya matahari pagi.
Di
sepanjang jalan di tepi sungai naretva, pengunjung bisa menikmati keindahan
stari most dan air sungai naretva yang jernih kehijauan. Santap pagi melengkapi
suasana. Ada makanan khas mediterania seperti chevapi (sejenis sosis
daging yang di sajikan dengan onion, krim keju, dan somun atau roti khas
turki), burek (roti pita dengan beragam pilihan isi seperti daging giling,
kentang dadu, keju, serta bayam ), serta sahan (campuran japrak/daging giling
terbalut daun anggur, kentang, dan capsicum/semacam merica hijau).
Kalau
sudah kenyang, saatnya berburu souvenir khas mostar. Pilih saja lampu khas
Turki, pipe flute atau seruling tradisional, taplak meja bordir
khas Mediterania, atau piring kaca dengan dekorasi khas persia.
Untuk
sampai di kota ini, pengunjung kebanyakan berkendara dengan bus dari kota besar
kroasia seperti split atau duprovnik. Keliling kroasia sungguh kurang lengkap
dan sedap tanpa melipir ke kota cantik yang satu ini! (*)
SUMBER : JP Sabtu 6
Januari 2018




Tidak ada komentar:
Posting Komentar