Senin, 26 Februari 2018

Menjelajahi Mostar, Bosnia-Herzegovina

Bangunan Berlubang Bertebaran

                Perjalanan ke Mostar di iringi kerisauan dari keluarga. Kota itu paling banyak menyimpan sejarah perang antara Bosnia, Kroasia, dan Serbia pada pertengahan 1991. Kekhasan heritage berpadu dengan bangunan yang berhias lubang  bekas tembakan.


                “YANG bener aja, ke Bosnia? Ngapain?”
               “Duh, kok aneh-aneh sih. Hati-hati ya di sana. Keep alarmed!"

                Kira-kira, itulah reaksi keluarga dan teman-teman ketika tahu saya akan berkelana ke negeri Balkan. Mungkin kalian juga penasaran dan khawatir sama seperti mereka. Apalagi, Bosnia dan Herzegovina adalah negara bekas perang yang baru merdeka dan baru berusia dua dekade.Penasaran ada surga apa di negara muda itu? Yuk!

                Adalah Mostar, sebuah kota yang paling banyak  menyimpan sejarah  perang antara Bosnia, Kroasia,dan Serbia pada pertengahan 1991. Nama Mostar di ambil dari kata Mostari atau penjaga jembatan (bridge-keepers). Kehadirannya pada abad pertengahan dengan gigih menjaga dan mengawasi  Stari Most (old bridge) untuk para pedagang, prajurit, serta travelers di tepi sungai Neretva.


                Jembatan yang di bangun pada era kekaisaran  ottoman (1566), yang di juluki The Graceful Ottoman Architecture, tersebut terbentang di atas Sungai Neretva. Lokasi itu merupakan  rute dagang dari kawasan Adriatic menuju pusat Bosnia. Karena itu, penduduk Mostar tersebar di kedua sisi sungai yang di pisah menjadi kawasan  permukiman dan perdagangan.

                Sayang, keharmonisan antara warga Bosnia, Kroasia, dan Serbia runtuh saat perpecahan federasi Yugoslavia. Penyebabnya, krisis ekonomi.

                Dampaknya, Stari Most yang oleh pujangga muslim di gambarkan sebagai  “bulan sabit batu” menjadi sasaran tentara  Kroasia saat perang berlangsung. Jembatan tersebut di hancurkan secara tragis pada November 1993.



                Jembatan batu itu lalu di bangun kembali dengan mengumpulkan kepingan-kepingan yang jatuh di Sungai Neretva. Pembangunan rampung 11 tahun kemudian. Untuk mengingat peristiwa tersebut, terdapat batu berukuran sedang di sudut jembatan bertulisan “Dont Forget ‘93”.

                Saat saya berkunjung pagi itu, matahari belum sepenuhnya bangun. Cahayanya kuning kemerahan, tetapi cukup untuk menangkap kemegahan jembatan yang sekarang mengisahkan old town dan new town Mostar. 

 
                Sepanjang kota tua, wisata dan pengunjung di suguhi bangunan-bangunan bekas perang. Tampak rumah-rumah yang temboknya penuh lubang, gedung pertemuan komunitas muslim Bosnia yang rusak akibat serangan bom dan meriam. Tak sedikit kios di sepanjang jalan yang menjual souvenir. Gedung di kawasan tersebut tampil khas dengan gaya arsitektur yang kuno serta elegant.

                Dari atas stari most, pengunjung bisa melihat bukit yang menjadi medan perang antara muslim bosnia dan katolik kroasia. Di puncaknya terdapat salib (kriz na humu).


                Di sisi lain bukit, masjid bernama koski mehmed mosque berdiri megah di wilayah kota tua. Pemandangan di situ sungguh menyejukkan mata. Pemukiman dengan gaya arsitektur yang memadukan kondisi perang pada masa lalu dan perdamaian pada masa sekarang. Teduh, tentram, dengan sedikit bekas cahaya matahari pagi.


                Di sepanjang jalan di tepi sungai naretva, pengunjung bisa menikmati keindahan stari most dan air sungai naretva yang jernih kehijauan. Santap pagi melengkapi suasana. Ada makanan khas mediterania seperti chevapi  (sejenis sosis daging yang di sajikan dengan onion, krim keju, dan somun atau roti khas turki), burek (roti pita dengan beragam pilihan isi seperti daging giling, kentang dadu, keju, serta bayam ), serta sahan (campuran japrak/daging giling terbalut daun anggur, kentang, dan capsicum/semacam merica hijau).


                Kalau sudah kenyang, saatnya berburu souvenir khas mostar. Pilih saja lampu khas Turki, pipe flute  atau seruling tradisional, taplak meja bordir khas Mediterania, atau piring kaca dengan dekorasi khas persia.


                Untuk sampai di kota ini, pengunjung kebanyakan berkendara dengan bus dari kota besar kroasia seperti split atau duprovnik. Keliling kroasia sungguh kurang lengkap dan sedap tanpa melipir ke kota cantik yang satu ini!  (*)

SUMBER : JP Sabtu 6 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar