Kamis, 01 Maret 2018

Mengunjungi Hue, Ibu Kota Vietnam Masa Lalu



Peninggalan Dinasti Nguyen

               

              Berbeda dengan orang kebanyakan, Regina menjelajahi Kota Hue selama tiga hari sambil mengamati ragam arsitektur di sana. Hue merupakan ibu kota Vietnam selama masa kejayaan  dinasti Nguyen selama 150 tahun hingga 1945.




                CUACA  malam yang lumayan hangat saya rasakan ketika mendarat di PHU Bai Airport, Hue. Sangat berbeda dengan cuaca kota Hanoi yang mencapai 16 derajat celcius yang sebelumnya saya singgahi.

                Hue, tanpa di ragukan lagi, menjadi kota paling romantis dan puitis di Vietnam. Terutama kombinasi atmosfer Perfume River dan kemegahan arsitektur kuno dari Imperal Citadel. Kota tersebut berada di pinggiran sungai Song Huong atau yang lebih di kenal sebagai Perfume River dengan beberapa jembatan yang membentang menyeberangi sungai.

                Peninggalan sejarah masa kejayaan dinasti  Nguyen yang berupa benteng serta kompleks istana masih terlihat di bagian utara Sungai Song Huong sebagai bagian dari kota tua. Beberapa monumen bersejarah seperti makam kaisar dan pagoda peninggalan dinasti Nguyen berhasil terjaga. Hue pun masuk situs sejarah UNESCO pada 1993. Sementara itu, arsitektur peninggalan  kolonial Prancis berada di sisi selatan sungai. Arsitektur itu termasuk bagian dari kota baru  Hue yang menjadi kawasan komersial.

                Ancient Imperial Citadel di capai dengan berjalan kaki sekitar 25 menit, menyeberangi jembatan Truong Tien menuju ke kota Tua. Bila terlihat tembok benteng (citadel dari bahasa perancis yang berarti benteng), Kompleks Imperial Citadel tersebut sudah dekat.

                Dinding batu 520 hektare mengelilingi Forbidden City. Dulu, kaisar dari dinasti Nguyen tinggal di sana bersama permaisuri dan keluarga terdekatnya.

                Lokasinya yang berada di bagian utara sungai memiliki filosofi tersendiri. Penjaganya adalah bukit pasir  The Coh Hen dan Con Da Vien alias naga di sebelah kiri dan harimau di sebelah kanan yang berfungsi melindungi kota dari roh jahat. Kompleks Citadel terdiri atas tiga lingkaran  benteng. Yakni, Kinh Thanh Hue (Hue Capital Citadel), Hoang Thanh (Imperial City), dan Tu Cam Thanh (Forbidden Purple City).

                Di butuhkan waktu hampir seharian untuk mengunjungi Citadel. Benteng tersebut di bangun pada 1805 di bawah pemerintahan Kaisar Gia Long dan selesai pada 1832 di bawah kedaulatan Kaisar Minh Mang. Tembok benteng itu berfungsi sebagai pertahanan. Luasnya sekitar 10 km dengan tinggi 6 meter dan tebal 21 meter.

                Ada sepuluh pintu masuk. Masing-masing di capai melalui jembatan melengkung yang membentang di atas kanal yang dulu juga berfungsi sebagai perlindungan. Di situlah Flag Tower berada, dan persis di belakangnya merupakan pintu masuk utama untuk menuju ke Imperial City.

                Akses menuju Imperial City dapat di lalui dengan empat pintu gerbang. Chua Ngo Mon atau yang di kenal sebagai Gerbang Noon hanya di gunakan raja. Dari gerbang itu, para turis harus membeli tiket seharga 150 ribu dong untuk bisa masuk ke Citadel. Ada beberapa kompleks bangunan. Mulai tempat acara kenegaraan, tempat ibadah, kantor pemerintahan, hingga taman sebagai tempat bersantai kaisar.

                Forbidden Purple  City berada di dalam kompleks Imperial City dan merupakan tempat tinggal raja beserta keluarga nya. Kompleks tersebut memiliki tujuh gerbang. Di dalamnya, terdapat istana raja, tempat kerja raja, tempat tinggal khusus permaisuri dan orang tua, dapur istana, serta ruang santai raja.

                Selain kompleks istana, beberapa makam raja dan pagoda tempat ibadah menjadi tempat yang wajib di kunjungi ketika berada di Hue. (*)


THIEN  MU PAGODA


                Pagoda ini adalah simbol kota tua Hue. Terletak di bukit Ha Khe, sekitar 5 km dari pusat kota. Pada bagian depan, terdapat menara Phuoc Dien yang berbentuk oktagonal tujuh tingkat dengan tinggi 21 meter yang di tujukan kepada Buddha yang muncul dalam bentuk manusia. Thien Mu Pagoda didedikasikan untuk sepuluh kaisar  dari dinasti Nguyen dan di bangun kaisar Minh Mang.

MAKAM KHAI DINH


                Makam kaisar Khai Dinh terletak di Gunung Chau Chu. Sekitar 2 km dari makam Minh Mang ke arah pusat kota Hue. Khai Dinh merupakan kaisar ke-12 dalam dinasti Nguyen yang berkuasa pada 1916-1925. Kompleks makam terbilang kecil. Namun, desainnya lebih detail karena pengaruh arsitektur Eropa dan Asia. Bahkan, lebih terlihat sebagai istana ketimbang kompleks makam. Bagian luar bangunan di dominasi warna putih dan sebagian warna hitam. Dinding serta langit-langit bagian dalam di desain dengan kaca dan porselen. Pengunjung harus menaiki sekitar 127 anak tangga mulai pintu gerbang agar bisa mencapai area makam yang berada di kompleks bangunan paling atas.

TEMPAT TINGGAL KAISAR


                Peninggalan Kaisar Khai Dinh ini berupa tempat tinggal Bao Dai yang merupakan anak Khai Dinh. Bao Dai sendiri adalah  kaisar terakhir Vietnam. Istana tersebut berada di pusat  kota, di pinggir kanal An Cuu. Rumah bertingkat tiga itu di desain dengan gaya arsitektur Eropa dan hampir hancur pada 1975. Pada 2002, bangunan tersebut di restorasi dengan bantuan pemerintah Jerman hingga akhirnya menjadi tempat tujuan wisata turis.

MAKAM TU DUC


                Makam kaisar Tu Duc paling dekat dengan kota, sekitar 8 km dari Hue. Makam kaisar Tu Duc di anggap sebagai karya yang paling indah dan terbesar dari arsitektur istana kerajaan dinasti Nguyen. Terdiri atas 50 bangunan yang terbagi menjadi dua area, yaitu temple dan makam. Temple terletak di bagian depan kompleks. Sementara itu, area makam terdiri atas Honour Courtyard, The Stele Pavilion, serta Sepulchre (monumen). The Stele Pavilion di kenal sebagai  salah satu batu terbesar di Vietnam. Pada permukaanya, terukir tulisan kaisar mengenai kehidupannya.

SUMBER : JP Sabtu 27 Januari 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar