Bangkit
& Kini Makin Elok
Jepang memiliki banyak sisi lain yang
punya magnet kuat untuk di kunjungi. Salah satunya, wilayah Tohoku atau kawasan
timur laut Jepang yang pada 11 Maret 2011 di hantam tsunami. Mereka bangkit
dengan cepat dan berubah menjadikan destinasi wisata yang elok.
SAAT mendapat undangan dari Japan
Airlines dan Prefektur Iwate untuk berkunjung ke Negeri Matahari Terbit bulan
lalu, kami langsung excited. Apalagi,
yang di eksplorasi bukan destinasi mainstream.
Saya dan Aida bakal mengeksplor kawasan Tohoku atau timur laut Jepang.
Di
antaranya, Kota Tono, Kamaishi, Ofunato, Rikuzentakata, dan Hiraizumi yang
berada di Prefektur Iwate. Enam tahun silam kawasan tersebut di guncang gempa
berkekuatan 9 SR hingga hampir hancur di
terjang tsunami. Kami penasaran melihat langsung bagaimana tampilannya kini.
Setelah
menempuh penerbangan yang nyaman selama tujuh di kelas economy premium, kami tiba di Bandara Narita Selasa pagi (28/11).
Berlanjut naik kereta cepat dari Narita ke Ueno, di teruskan ke Sendai Station.
Dari situ saya dan Aida bertolak ke Sendai International Center.
Destinasi pertama adalah Tono City
Archives Museum of Logistical Support. Perjalanan di tempuh sekitar 3 jam. Keluar
dari bus, udara dingin menusuk kulit. Tono, kota perdesaan di Prefektur Iwate
pusat, memang berada di perbukitan. Sepanjang perjalanan, terlihat sisa-sisa
hujan salju semalam.
Museum itu menggambarkan
bagaimana kota Tono menjadi hub atau base camp untuk bantuan logistic sebelum
di salurkan ke beberapa daerah yang terdampak tsunami. Tono menjadi jujukan
para relawan, juga rumah aman sementara bagi korban tsunami. Foto-foto yang di
pajang menunjukkan betapa dahsyat kehancuran yang di sebabkan tsunami tersebut.
Dari museum, kami menuju
penginapan Hamabeno Ryouriyado Houraikan di Kota Kamaishi. Jaraknya sekitar 1
jam perjalanan dari Tono. Sang pemilik, Iwasaki Akiko, menceritakan bahwa
tempat tersebut merupakan salah satu bangunan yang di terjang tsunami. Dia
menunjukkan video bagaimana penduduk saling bantu saat ombak besar tiba-tiba
menyerang. Ada seorang perempuan yang mengomando warga agar naik ke bukit. “Ya,
itu saya,” ucap Akiko, lantas tersenyum.
Esok paginya kami menikmati
pemandangan indah yang berjarak hanya 50 meter persis di seberang penginapan.
Yakni, Kamaishi Bay. “Saya tidak bisa membayangkan air menerjang rumah-rumah
penduduk dari tempat seindah ini,” kata Siurania Mirones, perempuan asal
Panama, sembari berswafoto dari tepi pagar pembatas.
Puas menikmati pagi di Kamaishi,
kami bergegas ke Sakari Station untuk mengikuti tur dengan kereta yang akan
membawa kami melintasi wilayah tsunami. Sang pemandu menceritakan, alkisah ada
satu kereta dengan masinis dan dua penumpang yang saat kejadian berhenti
darurat di terowongan. Ajaib, kereta tersebut selamat. Jalur rel Sanriku rusak
parah, perlu waktu 3 tahun untuk kembali beroperasi.
Dari sana tur berlanjut ke
Rikuzentakata. Melihat dari dekat Miracle Pine alias pohon pinus ajaib yang
menjadi tonggak semangat untuk pembangunan kembali setelah di terjang
tsunami. Di sekitarnya di buat seawall (dinding penahan air laut) yang lebih tinggi
dari pada sebelumnya. Yang semula 5,5 meter kini menjadi lebih dari 12 meter.
Perjalanan
di tutup dengan mengunjungi Chuson-ji Temple, Hiraizumi, yang merupakan kuil
utama Buddha di wilayah Tohoku. Kuil
yang di temukan pada 850 M itu masuk World Heritage UNESCO. Konjikido atau
Golden Hall menjadi daya tarik utama.
Hari
beranjak sore. Malam itu saya dan Aida
bermalam di Ryugoku sebelum esok paginya bergegas ke Bandara Narita
untuk kembali ke tanah air. (*/c4/na)
Miracle
Pine
Ini merupakan simbol rekonstruksi
pascatsunami di kota Rikuzentakata. Ketika terjadi tsunami, hampir 70 ribu
pohon pinus rusak. Alkisah, ada satu pohon pinus yang bertahan, kemudian di
buat replikanya.
Disaster
Education Train
Dari Sakari Station, kereta
melintasi jalur rel Sanriku. Penumpang bisa merasakan napak tilas ketika
terjadi bencana tsunami 2011. Ada satu kereta berisi tiga orang yang berhenti
darurat di terowongan, namun akhirnya selamat dari tsunami.
Chuson-ji
Temple
Kuil di Hiraizumi ini masuk
daftar World Heritage UNESCO. Di kawasan tersebut, banyak pepohonan rindang.
Kalau datang pada musim gugur, saat daun-daun berubah warna jadi kuning dan merah,
pemandangannya amat indah.
Penginapan
Khas
Sangat di sarankan bermalam di
penginapan ala Jepang. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah Hamabeno
Ryouriyado Houraikan di Kamaishi. Tempat itu menjadi saksi dahsyatnya tsunami 9
SR yang menyapu hingga lantai 2
bangunan. Tapi, lihatlah sekarang. Bangunan itu berdiri elok. Bagian dalamnya
cantik, kamar-kamarnya yang bergaya
Jepang supernyaman, bikin malas jalan-jalan. Hehe.
Makanan
Seafood
Seafood merupakan kuliner
andalan Tohoku. Di resto mana saja, bisa di jumpai hidangan sari laut yang
benar-benar fresh, tidak amis, dan
lezat, hanya dengan tambahan soy sauce.
Sumber : Jawa Pos
Edisi : Sabtu 23 Desember 2017
Di Ketik Ulang Oleh : Lw








Tidak ada komentar:
Posting Komentar