Selasa, 06 Maret 2018

Mengunjungi Tohoku Jepang Enam Tahun Setelah Tsunami



Bangkit & Kini Makin Elok

                Jepang memiliki banyak sisi lain yang punya magnet kuat untuk di kunjungi. Salah satunya, wilayah Tohoku atau kawasan timur laut Jepang yang pada 11 Maret 2011 di hantam tsunami. Mereka bangkit dengan cepat dan berubah menjadikan destinasi wisata yang elok.

                SAAT mendapat undangan dari Japan Airlines dan Prefektur Iwate untuk berkunjung ke Negeri Matahari Terbit bulan lalu, kami langsung excited. Apalagi, yang di eksplorasi bukan destinasi mainstream. Saya dan Aida bakal mengeksplor kawasan Tohoku atau timur laut Jepang.

                Di antaranya, Kota Tono, Kamaishi, Ofunato, Rikuzentakata, dan Hiraizumi yang berada di Prefektur Iwate. Enam tahun silam kawasan tersebut di guncang gempa berkekuatan  9 SR hingga hampir hancur di terjang tsunami. Kami penasaran melihat langsung bagaimana tampilannya kini.

                Setelah menempuh penerbangan yang nyaman selama tujuh di kelas economy premium, kami tiba di Bandara Narita Selasa pagi (28/11). Berlanjut naik kereta cepat dari Narita ke Ueno, di teruskan ke Sendai Station. Dari situ saya dan Aida bertolak ke Sendai International Center. 

                Destinasi pertama adalah Tono City Archives Museum of Logistical Support. Perjalanan di tempuh sekitar 3 jam. Keluar dari bus, udara dingin menusuk kulit. Tono, kota perdesaan di Prefektur Iwate pusat, memang berada di perbukitan. Sepanjang perjalanan, terlihat sisa-sisa hujan salju semalam.

                Museum itu menggambarkan bagaimana kota Tono menjadi hub atau base camp untuk bantuan logistic sebelum di salurkan ke beberapa daerah yang terdampak tsunami. Tono menjadi jujukan para relawan, juga rumah aman sementara bagi korban tsunami. Foto-foto yang di pajang menunjukkan betapa dahsyat kehancuran yang di sebabkan tsunami tersebut.

                Dari museum, kami menuju penginapan Hamabeno Ryouriyado Houraikan di Kota Kamaishi. Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari Tono. Sang pemilik, Iwasaki Akiko, menceritakan bahwa tempat tersebut merupakan salah satu bangunan yang di terjang tsunami. Dia menunjukkan video bagaimana penduduk saling bantu saat ombak besar tiba-tiba menyerang. Ada seorang perempuan yang mengomando warga agar naik ke bukit. “Ya, itu saya,” ucap Akiko, lantas tersenyum.

                Esok paginya kami menikmati pemandangan indah yang berjarak hanya 50 meter persis di seberang penginapan. Yakni, Kamaishi Bay. “Saya tidak bisa membayangkan air menerjang rumah-rumah penduduk dari tempat seindah ini,” kata Siurania Mirones, perempuan asal Panama, sembari berswafoto dari tepi pagar pembatas.

                Puas menikmati pagi di Kamaishi, kami bergegas ke Sakari Station untuk mengikuti tur dengan kereta yang akan membawa kami melintasi wilayah tsunami. Sang pemandu menceritakan, alkisah ada satu kereta dengan masinis dan dua penumpang yang saat kejadian berhenti darurat di terowongan. Ajaib, kereta tersebut selamat. Jalur rel Sanriku rusak parah, perlu waktu 3 tahun untuk kembali beroperasi.

                Dari sana tur berlanjut ke Rikuzentakata. Melihat dari dekat Miracle Pine alias pohon pinus ajaib yang menjadi tonggak semangat untuk pembangunan kembali setelah di terjang tsunami.  Di sekitarnya di buat seawall  (dinding penahan air laut) yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. Yang semula 5,5 meter kini menjadi lebih dari 12 meter.

                Perjalanan di tutup dengan mengunjungi Chuson-ji Temple, Hiraizumi, yang merupakan kuil utama Buddha di wilayah Tohoku.  Kuil yang di temukan pada 850 M itu masuk World Heritage UNESCO. Konjikido atau Golden Hall menjadi daya tarik utama.

                Hari beranjak sore. Malam itu saya dan Aida  bermalam di Ryugoku sebelum esok paginya bergegas ke Bandara Narita untuk kembali ke tanah air. (*/c4/na)

Miracle Pine

Ini merupakan simbol rekonstruksi pascatsunami di kota Rikuzentakata. Ketika terjadi tsunami, hampir 70 ribu pohon pinus rusak. Alkisah, ada satu pohon pinus yang bertahan, kemudian di buat replikanya.

Disaster Education Train

Dari Sakari Station, kereta melintasi jalur rel Sanriku. Penumpang bisa merasakan napak tilas ketika terjadi bencana tsunami 2011. Ada satu kereta berisi tiga orang yang berhenti darurat di terowongan, namun akhirnya selamat dari tsunami.

Chuson-ji Temple

Kuil di Hiraizumi ini masuk daftar World Heritage UNESCO. Di kawasan tersebut, banyak pepohonan rindang. Kalau datang pada musim gugur, saat daun-daun berubah warna jadi kuning dan merah, pemandangannya amat indah.

Penginapan Khas

Sangat di sarankan bermalam di penginapan ala Jepang. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah Hamabeno Ryouriyado Houraikan di Kamaishi. Tempat itu menjadi saksi dahsyatnya tsunami 9 SR  yang menyapu hingga lantai 2 bangunan. Tapi, lihatlah sekarang. Bangunan itu berdiri elok. Bagian dalamnya cantik, kamar-kamarnya  yang bergaya Jepang supernyaman, bikin malas jalan-jalan. Hehe. 

Makanan Seafood

Seafood  merupakan kuliner andalan Tohoku. Di resto mana saja, bisa di jumpai hidangan sari laut yang benar-benar fresh, tidak amis, dan lezat, hanya dengan tambahan soy sauce.

Sumber : Jawa Pos 
Edisi : Sabtu 23 Desember 2017
Di Ketik Ulang Oleh : Lw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar